"Hei, Piah! Seng di ruang belakang ini harus diganti."
Mandeh terkejut. Tiba-tiba saja, laki-laki itu sudah berada di hadapannya. Entah dari mana ia datang, yang pasti itu di luar kebiasaan Sutan Miang. Biasanya, ia datang dari teras depan. Sebelum masuk ke perkarangan, ia mendehem dan melemparkan kerikil kecil ke arah jenjang kayu. Mandeh sudah paham saja apa yang harus dilakukan. Pintu depan dibiarkan terbuka. Di ruang tengah, secangkir air putih sudah dihidangkan.
"Dari mana Sutan?"
"Aku dari parak. Sudah tinggi semak di sana," balas Sutan Miang. Laki-laki itu langsung duduk bersila dan menyandarkan pundaknya ke tiang kayu di ruang tengah.
Mandeh tidak menanggapi balasan Sutan Miang. Laki-laki itu hanya berkeluh-kesah. Ia sedang mencari-cari alasan untuk membuat Mandeh tersudutkan. Kemarin, ia mengabarkan tentang nisan ibunya yang sudah hilang ditelan tanah perkuburan. Entah angin apa yang membuat saudara laki-laki Mandeh itu mengunjungi makam ibunya. Seumur-umur, tak pernah ia ke sana. Bahkan, ketika ibunya meninggal, Sutan Miang sibuk dengan anak-istrinya di rantau.
"Besok aku carikan orang untuk merambas semak di parak."
Mandeh mengangguk-angguk saja. "Aku masak samba lado tanak. Tunggulah sampai siang." Mandeh bergegas ke dapur. Di sana, tungku sudah terjarang. Ia meninggalkan Sutan Miang seorang diri. Laki-laki itu menjulurkan kakinya. Sebentar, matanya terlelap dibuai angin yang berembus di sela-sela dinding bambu yang menutupi rumah gadang.
Sudah tiga kali Sutan Miang tertidur di rumah gadang. Sejak pulang dari rantau, tak ada pekerjaan yang dilakukannya. Laki-laki itu menjadi sering datang ke rumah kayu itu. Di rumah itu, masih ada Mandeh, adik perempuannya yang masih bisa dikunjungi. Karena kunjungan saudara laki-lakinya itulah, Mandeh bertahan di rumah itu. Padahal, ia hanya seorang diri di sana.
"Ibu tinggal di rumah Nina saja," ujar anak bungsu Mandeh. Suami anaknya itu baru saja membuatkan rumah di kampung sebelah. Tak jauh, tapi Mandeh enggan meninggalkan rumah yang memiliki panggung setinggi anak kecil itu.
"Aku di sini saja. Nanti mamak-mamakmu tiba," balas Mandeh.
Nina kesal dengan jawaban Mandeh. Apa pentingnya menunggu kedatangan mamak-mamaknya. Nina tak suka pula cara Mandeh melayani mamak-mamaknya itu. Kalau datang, ia menyuguhkan minuman dan membuatkan masakan. Masakan yang dibuat haruslah kegemaran mamak-mamaknya. Ada lima mamak Nina. Seleranya berbeda-beda.


Novel yang inspiratif
BalasHapus